Mengenal Lebih Dekat Dengan Paspampres

Mengenal Lebih Dekat Dengan Paspampres

Saat kunjungan Presiden Amerika Serikat di bermacam acara pasti kita lihat sekelompok orang bertubuh tegap memakai stelan jas berkacamata hitam dengan earpiece terpasang di telinga dalam posisi siaga mengawal. Ya mereka adalah Secret Service, satuan pengaman presiden Amerika Serikat.

Nah, bagaimana dengan Presiden kita? apakah juga di kawal Secret Service seperti Presiden Amerika Serikat tersebut?

Seperti hal nya Presiden di banyak negara, Presiden Republik Indonesia juga di kawal sepasukan pengaman presiden, PASPAMPRES – Pasukan Pengamanan Presiden.

Sejarah

Keberadaan Paspampres ini bermula dari peristiwa Hijrah ke Yogyakarta pada tanggal 3 Januari 1946. Situasi Jakarta yang mencekam dan adanya keinginan Belanda untuk menyandera Presiden dan Wakil Presiden, maka Mr. Pringgodigdo selaku Sekretaris Negara memberikan perintah untuk mengungsikan Presiden dan Wakil Presiden ke Yogyakarta, operasi penyelamatan ini di kenal dengan istilah : Hijrah ke Yogyakarta. Operasi penyelamatan di mulai dengan menyiapkan KLB (Kereta Luar Biasa) oleh kelompok pejuang, berikut juga pengamanan rute Jakarta – Yogyakarta dan titik penjemputan di belakang kediaman Presiden Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur no 56, Jakarta.

KLB berangkat pada tanggal 3 Januari 1946 sore hari, dan tiba di Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946.  Proses penyelamatan ini melibatkan banyak unsur baik TNI dan POLRI. Untuk mengenang keberhasilan operasi ini, maka tanggal 3 Januari di jadikan sebagai hari bakti Paspampres.

RESIMEN TJAKRABIRAWA

Terkait dengan beberapa kali percobaan pembunuhan Presiden Soekarno, Menkohankam/PANGAB Jenderal AH. Nasution mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk membentuk sebuah pasukan yang secara khusus bertugas untuk menjaga keamanan Presiden dan keluarganya. Pasukan khusus tersebut dikenal dengan nama RESIMEN TJAKRABIRAWA. Nama Tjakrabirawa diambil dari nama senjata pamungkas milik Batara Kresna yang dalam lakon wayang purwa digunakan sebagai senjata penumpas semua kejahatan.

Selanjutnya bertepatan dengan hari ulang tahun kelahiran Presiden Soekarno tanggal 6 Juni 1962 dibentuklah kesatuan khusus Resimen Tjakrabirawa dengan Surat Keputusan Nomor 211/PLT/1962. Resimen Tjakrabirawa dibentuk dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan pengamanan. Pada awalnya resimen Tjakrabirawa hanya terdiri dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP), yang saat itu dibawah pimpinan Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjoyo, menjadi satuan yang anggotanya dipilih dari anggota – anggota terbaik dari empat angkatan yaitu, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian yang masing – masing angkatan terdiri dari satu batalyon. Resimen Tjakrabirawa pada saat itu dipimpin oleh Komandan Brigadir Jenderal Moh. Sabur dengan wakilnya yakni, Kolonel Cpm Maulwi Saelan.

Setelah tiga tahun bertugas, Tjakrabirawa sebagai Resimen Khusus yang bertugas melakukan pengawalan dan pengamanan terhadap diri Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya berakhir pada tanggal 28 Maret 1966. Kesatuan ini dilikuidasi berdasarkan surat perintah Menteri Panglima Angkatan Darat nomor Sprint/75/III/1966.

SATGAS POMAD PARA

Sekitar akhir tahun 1965, keadaan politik di Indonesia sedang mengalami pembenahan secara menyeluruh. Krisis politik terjadi dialami merupakan akibat lebih lanjut dari meletusnya peristiwa G30S/PKI. Berdasarkan Surat Perintah Menteri Panglima Angkatan Darat Nomor PRIN.75/III/1966 tanggal 23 Maret 1966, yang berisi tentang perintah kepada Direktur Polisi Militer Angkatan Darat (Brigjen TNI Sudirgo), maka dilaksanakannyalah serah terima penugasan dari Resimen Tjakrabirawa kepada Polis Militer Angkatan Darat. Tidak lebih dari tiga hari setelah serah terima pelaksanaan tugas pengawalan terhadap Kepala Negara berlangsung, Direktur Polisi Militer dengan serta merta mengeluarkan Surat Keputusan dengan Nomor : Kep-011/AIII/1966 tanggal 25 Maret 1966 yang berisi tentang pembentukan Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat (Satgas POMAD) yang menunjuk Letkol Cpm Norman Sasono sebagai Komandan Satgas Pomad Para.

Satgas Pomad Para yang berkedudukan dibawah Direktorat Polisi Militer terdiri dari Batalyon Pomad Para sebagai inti, dibantu Denkav Serbu, Denzipur dan Korps Musikdari Kodam V Jakarta Raya, Batalyon II PGT (Pasukan Gerak Tjepat) Angkatan Udara, Batalyon Brimob Polisi Negara, serta batalyon Infanteri 531/Para Raiders yang kemudian diganti oleh Batalyon Infanteri 519/Raider Para, yang keduanya berasal dari Kodam VIII Brawijaya.

Baca Juga :  Istana Presiden Republik Indonesia

Dengan tugas mengawal Kepala Negara RI dan Istana Negara, serta melaksanakan tugas – tugas protokoler kenegaraan, Satgas Pomad Para berkedudukan dibawah Direktorat Polisi Militer yang terdiri dari dua Batalyon Pomad, satu Batalyon Infanteri Para Raider, serta satu Detasemen Kaveleri Panser.

Batalyon I Pomad Para berkedudukan di Jalan Tanah Abang II Jakarta Pusat yang dulunya digunakan sebagai Markas serta Asrama Resimen Tjakrabirawa. Tugas pokok Batalyon I Pomad Para yakni, Melaksanakan pengawalan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, serta Tamu Asing setingkat Kepala Negara, melaksankan pengawalan Istana Merdeka Utara, Istana Merdeka Selatan serta kediaman resmi Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk Batalyon II Pomad Para berkedudukan di Ciluer – Bogor yang sebelumnya digunakan sebagai asrama Batalyon I Pomad Para. Tugas Batalyon II Pomad Para yang berkedudukan di Ciluer, bertugas melaksanakan pengawalan Istana Bogor, Istana Cipanas, serta membantu Batalyon I Pomad Para dalam melaksanakan tugas pokoknya. Batalyon Kaveleri Serbu Kodam V Jaya tetap di BP kan ke Satgas Pomad, sedangkan Batalyon 531/Para Raiders selanjutnya ditarik kembali ke Kodam Brawijaya untuk bertugas dilingkungan angkatan Darat.

Sesuai dengan perkembangan organisasi dilingkungan TNI-AD, Batalyon II Pomad akhirnya dilikuidasi. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1967 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat (Jenderal TNI Soeharto) dengan Nomor : KEP-681/VI/1967, berisi tentang penetapan pembebasan Direktur Polisi Militer Angkatan Darat dari tugas pengkomandoan terhadap Satgas Pomad. Untuk pembinaan selanjutnya kesatuan khusus tersebut ditetapkan secara langsung berada di bawah kendali Menteri /Panglima Angkatan Darat.

PASWALPRES
Presiden RI Jenderal TNI Soeharto selaku Panglima tertinggi ABRI sejak awal tahun 1970 turun langsung membenahi organisasi ABRI hingga tertata dan terintegrasi di bawah satu komando Panglima ABRI. Satgas Pomad Para yang saat itu di bawah kendali Markas Besar ABRI pun ikut dibenahi dengan dikeluarkannya Surat Perintah Menhankam Pangab Nomor Sprin/54/I/1976 tanggal 13 Januari 1976 . Surat perintah tersebut berisi pokok – pokok organisasi dan prosedur Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES). Melalui surat perintah tersebut ditentukan tugas pokok Paswalpres yaitu, Menyelenggarakan pengamanan fisik secara langsung bagi Presiden Republik Indonesia serta menyelenggarakan juga tugas – tugas protokoler khusus pada upacara – upacara kenegaraan.
Organisasi Paswalpres diatur secara rinci dalam surat perintah Menhankam Pangab Nomor Sprin/54/I/1976, yang terdiri dari beberapa unsur, antara lain :

Unsur Pimpinan
Unsur Pembantu Pimpinan
Unsur Pelayan
Staf Unsur Pelaksanan, yang terdiri dari :
Detasemen Pengamanan Khusus (Denpamsus) yang bertugas sehari – hari melakukan pengamanan fisik secara langsung terhadap Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya. Detasemen Pengamanan Khusus terdiri dari :
1) Kelompok Komando (Pokko)
2) Kompi Kawal Pribadi (Ki Walpri)
3) Kompi Pengamanan Khusus (Ki Pam Sus)
4) Peleton Penyingkiran (Ton Kiran)
Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan (Yonwalprotneg) diaman Yonwalprotneg adalah satuan Polisi Militer yang langsung di Bawah Perintahkan kepada Paswalpres.

PASPAMPRES
Berdasarkan Surat Keputusan Pangab Nomor Kep /02/II/1988 tanggal 16 Februari 1988, maka ditetapkan bahwa Paswalpres masuk dalam struktur organisasi Bais TNI. Dalam perkembangan selanjutnya mengingat kata pengamanan dinilai lebih tepat digunakan daripada pengawalan, dikarenakan mengandung makna yang menitikberatkan kepada keselamatan obyek yang harus diamankan. Sesuai dengan tuntutan tugas sebagai Pasukan Pengawal Presiden nama satuan Paswalpres diubah menjadi PASPAMPRES (Pasukan Pengamanan Presiden)
Berdasarkan keputusan Pangab Nomor Kep /04/VI/1993 tanggal 17 Juni 1993 Paspampres tidak lagi dibawah Badan Intelejen ABRI, akan tetapi dibawah Pangab dengan tugas pokok melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat terhadap Presiden, Wakil Presiden Republik Indonesia serta Tamu Negara setingkat Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan keluarganya termasuk undangan pribadi serta tugas Protokoler khusus pada upacara Kenegaraan yang dilakukan baik dilingkungan Istana Kepresidenan maupun diluar.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Meletakkan Kabel Optic Bawah Laut?

Selanjutnya berdasarkan Peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/5/I/2010 tanggal 20 Januari 2010, organisasi Paspampres disempurnakan dengan komposisi sebagai berikut :

Unsur Pimpinan Komandan dan Wakil Komandan.
Unsur Pembantu Pimpinan terdiri dari Inspektorat, Staf Perencanaan, Staf Intelejen , Staf Operasi, Staf Personel dan Staf Logistik.
Unsur pelayanan tediri dari Pekas , Sekretariat dan Detasemen Markas.
Unsur Badan pelaksana terdiri dari Densi, Denkomlek, Denkes, Denpal, Denbekang dan Pusdalops.
Unsur pelaksana terdiri dari :
Grup A Paspampres, berkekuatan 4 detasemen, melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap Presiden RI beserta keluarganya.
Grup B Paspampres, berkekuatan 4 detasemen, melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap Wakil Presiden RI beserta keluarganya.
Grup C Paspampres, berkekuatan 2 detasemen melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap tamu negara dan keluarganya, serta 1 detasemen latihan bertugas melatih dan membina kemampuan personel Paspampres.
– Batalyon Pengawal dan Protokoler Kenegaraan.
– Skuadron Kavaleri Panser.
– Detasemen Musik (Densik).
Grup D Paspampres, berkekuatan 4 Detasemen melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap mantan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya

[tabs]

[tab title=”PATAKA PASPAMPRES”]SETIA WASPADA

[/tab]

[tab title=”Arti Lambang”]

PATAKA PASPAMPRES

“SETIA WASPADA”

Pada tanggal 17 Maret 1995   berdasarkan Surat keputusan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Jenderal TNI Faisal Tanjung, No. : Skep/157/III/1995 tentang pengesahan berlakunya Pataka    Paspampres Setia Waspada maka lambang satuan Paspampres adalah “SETIA WASPADA” dengan gambar lambang Negara Bhineka Tunggal Ika yang berlatar belakang PERISAI MERAH PUTIH dan dilingkari oleh PADI DAN KAPAS.

SETIA WASPADA mengandung arti :

Kehormatan dan Pengejawantahan akan keluhuran cita-cita serta kesetiaan terhadap bangsa dan negara yang senantiasa harus dijunjung tinggi dan dipertahankan. Sebagai alat pengikat batin dan jiwa seia-sekata setiap Prajurit Paspampres dalam rangka kebersamaan dan meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi tantangan tugas.

Makna “SETIA WASPADA” adalah Prajurit Paspampres adalah Prajurit yang senantiasa setia kepada tugasnya, setia kepada Pancasila dan Sapta Marga serta setia kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan memelihara tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Lambang-lambang dalam Logo Setia Waspada bermakna antara lain:

PADI DAN KAPAS.
Padi terdiri dari 66 butir, kapas terdiri dari 23 buah dan pengikat keduanya terdiri dari 3 ikatan, yang melambangkan 23 Maret 1966 sebagai hari terbentuknya Satgas Pomad Para cikal bakal organisasi Paspampres .

PERISAI BERWARNA MERAH DAN PUTIH.
Mencerminkan tugas pokok Paspampres sebagai pengaman Kepala Negara yaitu sebagai benteng pertahanan terakhir bagi keselamatan Kepala Negara, senantiasa berpegang teguh pada keberanian yang dilandasi ketulusan dan kesucian jiwa dalam melaksanakan tugas . lima sudut/sisi pada perisai mencerminkan butir-butir Sumpah Prajurit.

GARUDA PANCASILA.
Garuda Pancasila adalah Lambang Negara Republik Indonesia. Tugas mengamankan Kepala Negara adalah identik dengan mengamankan kedaulatan Bangsa dan Negara.

TULISAN SETIA WASPADA.
Tulisan pada pita warna kuning emas bermakna bahwa Prajurit Paspampres adalah Prajurit yang senantiasa setia kepada tugasnya, setia kepada Pancasila dan Sapta Marga serta setia kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan memelihara tingkat kewaspadaan yang tinggi. Sedangkan pita mencerminkan ikatan jiwa korsa yang selalu dijaga.

WARNA MERAH.
Adalah keberanian. Berani dalam setiap tindakan dengan didasarkan pada keyakinan akan kebenaran tugas yang dilaksanakan dan dilandasi jiwa pengapdian yang suci dan tulus iklas.

WARNA KUNING.
Adalah keagungan. Tugas yang diemban oleh Paspampres adalah tugas yang suci dan agung. Selain itu juga melambangkan kemakmuran. Makmur dan damai merupakan idaman setiap bangsa yang senantiasa harus dipertahankan.

WARNA HITAM.
Adalah Keabadian. Tiada lekang oleh teriknya matahari tak goyah oleh dasyatnya badai, dan tak luntur oleh ganasnya ombak samudra.

[/tab]

[/tabs]

 

GALERY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.